Project Profil Pelajar Pancasila: Bagaimana Siswa SMP Belajar Gotong Royong Lintas Agama

Admin/ November 21, 2025/ Edukasi, Pendidikan

Penerapan Kurikulum Merdeka di jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) membawa inovasi signifikan melalui Project Profil Pelajar Pancasila (P5), sebuah kegiatan kokurikuler yang dirancang untuk memperkuat enam dimensi karakter fundamental pada siswa. Salah satu dimensi krusial yang diangkat melalui Project Profil Pelajar adalah gotong royong dan kebinekaan global, yang secara khusus diimplementasikan melalui proyek-proyek yang menuntut kolaborasi lintas agama. Tujuan utamanya adalah menginternalisasi nilai toleransi, persatuan, dan saling bantu, sehingga siswa tidak hanya memahami teori keberagaman, tetapi mempraktikkannya dalam kehidupan nyata.

Project Profil Pelajar Pancasila memposisikan siswa sebagai subjek aktif dalam pembelajaran. Topik proyek seringkali relevan dengan isu sosial dan lingkungan lokal, yang secara inheren membutuhkan kerja sama dari seluruh anggota kelompok tanpa memandang latar belakang keyakinan. Sebagai contoh nyata, sebuah SMP di Jawa Timur meluncurkan proyek bertajuk “Merawat Rumah Ibadah Bersama”. Dalam proyek ini, kelompok siswa yang heterogen (terdiri dari siswa Muslim, Kristen, Hindu, dan Buddha) ditugaskan untuk melakukan bakti sosial membersihkan dan merawat fasilitas publik atau rumah ibadah yang berbeda dari agama mereka sendiri.

Kegiatan gotong royong lintas agama ini dilaksanakan secara bergilir setiap dua bulan sekali, dengan pengawasan ketat dari Petugas Guru Koordinator P5 dan tokoh masyarakat setempat. Misalnya, pada minggu pertama bulan Mei, kelompok siswa Muslim dan Kristen bekerja sama membersihkan lingkungan Pura, sementara pada minggu kedua bulan Juli, mereka bergotong royong membersihkan lingkungan Masjid. Pengalaman ini memberikan pemahaman mendalam tentang praktik keagamaan teman-teman mereka dan menumbuhkan rasa saling memiliki (sense of belonging) terhadap sesama warga negara, sesuai dengan nilai luhur Pancasila.

Waktu pelaksanaan proyek ini diatur fleksibel, namun wajib memenuhi alokasi jam pelajaran P5 yang telah ditetapkan. Setiap proyek biasanya memakan waktu sekitar 4 hingga 8 minggu dan diakhiri dengan pameran hasil karya atau presentasi di depan komite sekolah dan orang tua. Kepala Sekolah mewajibkan setiap guru mata pelajaran untuk mencantumkan nilai non-akademik, seperti tingkat partisipasi, inisiatif, dan kemampuan kolaborasi siswa dalam Project Profil Pelajar ini sebagai bagian integral dari rapor. Dengan metode ini, SMP secara efektif menciptakan lingkungan belajar yang tidak hanya menghargai kecerdasan kognitif tetapi juga menjunjung tinggi kebinekaan dan persatuan sosial sejak dini, sebuah bekal penting bagi masa depan bangsa.

Share this Post