Workshop Parenting SMPN 2 Sutojayan: Tips Bijak Kelola Gawai & Kesehatan Mental Remaja
Pendidikan seorang anak tidaklah berhenti saat mereka melangkah keluar dari gerbang sekolah. Sinergi antara lingkungan pendidikan formal dan pola asuh di rumah menjadi fondasi utama dalam membentuk karakter generasi muda yang tangguh. Menyadari pentingnya peran orang tua dalam mengimbangi pesatnya arus teknologi, kegiatan Parenting kini menjadi agenda krusial yang harus rutin diselenggarakan oleh institusi pendidikan untuk menyamakan persepsi antara guru dan wali murid.
Kegiatan strategis ini baru saja dilaksanakan di SMPN 2 Sutojayan, di mana pihak sekolah mengundang para orang tua untuk duduk bersama membahas tantangan mendidik anak di era digital. Fokus utama dari pertemuan ini adalah memberikan pembekalan mengenai bagaimana mendampingi remaja yang kini hampir seluruh aspek kehidupannya bersinggungan dengan teknologi informasi. Guru dan pakar yang hadir menekankan bahwa keterlibatan orang tua bukan berarti membatasi secara total, melainkan membimbing anak agar memiliki kontrol diri yang kuat.
Salah satu topik hangat yang menjadi pembahasan utama adalah penggunaan Gawai yang berlebihan di kalangan siswa. Tidak dapat dipungkiri bahwa ponsel pintar adalah pisau bermata dua; ia bisa menjadi sumber ilmu pengetahuan yang luar biasa, namun juga bisa menjadi pintu masuk bagi pengaruh negatif jika tidak diawasi. Di SMPN 2 Sutojayan, para orang tua diberikan tips praktis mengenai penetapan batasan waktu layar (screen time) yang sehat serta bagaimana membangun komunikasi yang terbuka agar anak mau berbagi mengenai apa yang mereka akses di dunia maya.
Keterikatan yang terlalu dalam pada dunia digital seringkali berdampak langsung pada Kesehatan Mental remaja. Kurangnya interaksi sosial di dunia nyata, paparan terhadap perundungan siber (cyber bullying), hingga tekanan media sosial yang menciptakan standar hidup tidak realistis dapat memicu kecemasan dan depresi pada siswa. Melalui workshop ini, sekolah berupaya mengedukasi orang tua untuk lebih peka terhadap perubahan perilaku anak, seperti menjadi penyendiri, mudah marah, atau menurunnya minat belajar sebagai sinyal adanya masalah psikologis.
Dalam sesi Parenting tersebut, ditekankan bahwa rumah harus menjadi tempat yang paling aman bagi anak untuk mengekspresikan emosi mereka. Orang tua diajak untuk tidak hanya menuntut nilai akademik yang tinggi, tetapi juga memperhatikan kesejahteraan emosional anak. Dengan memberikan dukungan moral yang tepat, remaja akan memiliki ketahanan mental yang lebih baik dalam menghadapi dinamika pergaulan yang semakin kompleks di luar sekolah.
